Sabtu, 18 Februari 2017

Tidak ada surat untuk kekasihku

Tidak ada surat untuk kekasih

Sukab yang malang, jauh-jauh aku ke tempat ini hanya untuk menuliskanmu sebuah surat yang tidak akan pernah sampai padamu. Aku tak sebodoh kamu Sukab. Dengan begitu nyali memotong senja pada empat sisi dengan kemilau keemasannya yang paling indah, yang paling mungkin didapati di langit sore. Sepuluh tahun tukang pos itu menyesatkan surat itu, terhambat oleh mereka yang protes, oleh mereka yang berebut surat dengan kartu pos bermatrai dengan gambar senja oranye, mereka berebut, padahal jelas sekali di sana tertulis namaku, "Untuk Alina Terkasih".

Aku tak sebodoh dirimu Sukab, tak akan kubiarkan JNE, Tiki, J&T, Pos atau bahkan seluruh suremail apapun menyesatkan surat ini untukmu. Karena surat ini hanyalah untukku, untuk Alinamu yang bahagia, yang telah memaafkanmu.

Malam ini tidak ada lagi senja Sukab. Tahukah, setelah kamu mengirimkan senja itu, keguncangan terjadi di mana-mana, orang-orang di luar sana berburu senja, mata mereka rindu dengan jingga hangat terakhir di ufuk itu. Seruni, Losari, dan dari puncak-puncak gunung, mereka memburuh sebuh senja, mereka pura-pura berharap senja akan kembali. Padahal mereka tahu, berita-berita mengabarkannya, di koran, di tv, youtube, facebook, Twitter, Path, bahkan para selebgram mengabarkan dari lokasi-lokasi pencarian mereka, bahwa senja telah hilang, hilang dicuri lelaki yang tak berhenti senyum di bibir pantai. Mereka mencari senja yang hilang dan harapan mereka agar senja menyembul kembali. Mereka tahu sukab, tapi mereka sebenarnya suka-suka saja, mereka memang suka bermain-main. Seperti permainan Pokemon Go, mereka senang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada, asik dengan imajinasi mereka sendiri. Mereka senang berkumpul dan membicarakan senja yang hilang, sekan bersedih bersama.

Aku sendiri terduduk di atas pohon kelapa yang sengaja ditebang, mungkin karena sudah tua, atau memang sengaja ditaruh begitu, dibuat bangku, seakan-akan alami, biar yang duduk merasakan kesan romantis, dan betah bermelankolis. Teman-teman sudah tidur saat itu, aku melihat rembulan merah yang begitu indah, bulat penuh, cahayanya berpendar seperti cincin yang mengitari, tapi tidak juga menyatu dengan inti bulan yang merah itu.

Sungguh indah sukab. Tapi yakinlah, aku tak akan memotongnya pada empat sisinya, dengan siluet nyiur pantai, dengan pasir bening yang memantulkan bintik-bintik kilau bak berlian, manik-manik mutiara, kaca prisma, dan seperi katamu, bola mataku saat berkaca-kaca. Tak akan ku ambil semua itu dengan naif dan memasukannya ke dalam amplop lalu mengirimkannya padamu. Aku cukup waras. Cukuplah dengan semua keguncangan di dunia ini Sukab, akibat tindakanmu, sudah terlalu banyak huru-hara di mana-mana, aku tidak akan menambahnya.

Rembulan itu mungkin ketakuatan akan digunting tiba-tiba pada empat sisinya oleh orang-orang bodoh sepertimu Sukab. Ya, sungguh banyak di luar sana, mereka yang memotong sana-sini, mengatakan itu didasarkan kasihnya, dilakukan untuk seorang tercinta, dengan alasan ini-itu. Padahal kita semua tahukan, itu untuk diri mereka sendiri, itu keinginan mereka sendiri, demi kepuasannya, dirinya sendiri. Bulan itu pun telah hilang di balik awan, saat muncul lagi, begutu saja telah berganti dengan warna abu-abu keperakan yang biasa-biasa saja.

Sepertinya bulan itu berganti warna, agar jangan sampai aku menjadi bodoh, berubah pendirian, dan berniat mengirim bulan merah itu padamu. Dan saat itulah langit menjadi begitu gelap, bulan benar-benar pergi, langit benar-benar hitam, dan hal paling indah itu, membuat mataku sekan tak ingin mengatup sedetikpun, sekejap apapun. Bintang-bintang kerlap kerlip begitu indah Sukab. Jika mungkin saat itu, gemintang ini yang kamu kirim dalam amplop, dan bukan senja bodohmu itu, yang baru ku baca setelah sepuluh tahun. Walaupun itu sepuluh atau ribuan atau sejuta tahun sekalipun, jika mampu, aku akan menerimanya Sukab. Menerimanya dengan bahagia, dan akan ku ambil isi surat itu untuk diriku sendiri.

Gemintang tidak seperti senjamu Sukab. Kuakui itu indah, tak kupungkiri kusuka. Tapi gemintang Sukab, jika kamu memotongnya pada empat sisinya, orang-orang tidak akan histeris, orang-orang tidak akan ada yang merasa kehilangan. Tidak akan ada yang berebut, karena di sana, di langit itu, masih ada banyak dan akan cukup untuk dibagi ke semua orang. Ada milyaran di atas sana Sukab. Tidak akan orang berebut bintang kecuali dia cukup serakah untuk mengambil juga bintang orang lain.

Aku suka gemintang Sukab. Sering aku naik ke atap rumah di malam-malam sendirian, membayangkan menarik garis dari satu bintang paling terang ke bintang terang lainnya. Rasi bintang, seperti kata buku ensiklopedia astronomi paman yang kuciduk dari rumahnya semasa kecil. Awalnya yang terlihat di langit, hanya gugus-gugus bintang yang tertulis sesuai buku itu. Taurus, Libra, dan lainnya yang sudah ku lupa namanya, saking sulitnya untuk merangkainya di langit. Dan satu favoritku, karena begitu mudah untuk dirangkai, ditemukan, Scorpio. Tapi gugus bintang semakin menarik, dalam sendiriku, aku bisa membentuk apa saja dengan menggaris sesuka hati, membentuk apapun yang ku suka. Dan begitulah mungkin Sukab, aku menjadi pencinta gemintang, pada saat-saat gelap ia selalu datang, keindahannya setia.

Sukab, malam ini, di atas pohon yang sekan-akan romantis ini. Aku pandangi langit, penuh bintang, dan kutemukan sebuah gugus berbentuk semburat senyum merekah dengan mata berbinar, jika saja bukan karena angin bertiup yang mengoyangkan poniku, aku tahu gugus bintang itu akan berbentuk apa, wajahmu mungkin. Tapi aku lebih suka dengan dua bola mata yang berbinar dengan sebuah senyum dari pada gugus bintang itu menyempurna menjadi sebuah wajah. Entah aku yang sengaja menyusunnya dengan menarik garis-garis atau bintang-bintang itu sendiri yang menentukan dirinya!? Tapi yang terpenting, itu sungguh indah, dan ku suka.

Ada hal yang menarik dari gemintang Sukab. Jaraknya dari bumi kata buku itu, jauh se jauh-jauhnya. Saking jauhnya Sukab, kata buku itu, sebuah bintang yang berkerlip, telah mati ribuan, ratusan ribu, jutaan, bahkan milyaran tahun yang lalu. Betapah jauh jarak cahaya itu sampai, dan malam-malam dipenuhi manik-manik indah itu. Begitulah bintang, dengan kematiannya, cahaya bintang-bintang telah mengindahkan hidup kita, menjadi petunjuk di malam gelap, menjadi surat cinta pada setiap amplop yang mungkin dibuat karena cinta. Berapa kemungkinan usia kita Sukab, 40, 60, 80, 100 mungkin!? Bintang yang mati itu masih akan bisa kita nikmati sampai akhrinya nanti kita mati, bahkan sampai orang terakhir di bumi ini sendiripun yang mati, kerlip bintang itu masih akan setia. Entah apa yang terjadi setelah itu? Tapi untuk apa kita mesti tahu, setidaknya bintang itu selalu ada bersama dalam setiap hidup kita, masing-masing kita.

Itulah mengapa bintang ini tidak akan pernah ku tolak Sukab. Aku labih suka cerita cinta gemintang dari pada senjamu. Senjamu telah hilang dan orang-orang akan terus mencarinya! Suatu saat nanti akan ketemu dan orang-orang akan mulai lagi berebut sebuah senja. Lalu mencoba menguntingnya pada empat sisi, memasukannya ke amplop, mengirimiannya pada kekasih, dan terjadilah huru-hara. Orang-orang akan sibuk lagi mencari sebuah senja, yang sebenarnya sudah tidak ada, mereka tahu sudah dicuri, dan saat ketemu akan diperebutkan lagi.

Sedangkan bintang, bintang yang telah mati, yang mati agar menjadi kerlip kecil di langit pada malam gelap, pada seluruh hidup kita, tidak akan menimbukan masalah apa-apa. Semuanya sudah mendapatkannya dengan adil. Punyaku untukku sendiri, dan orang lain bahagia dengan miliknya sendiri. Bintang punya cara mencintai yang aneh, berkorban dan melakukan perjalan sangat jauh, dengan kecepatan sangat tinggi, hanya untuk berkerlib dilangit malam yang gelap. Walau mati, kerlipnya abadi, setidaknya dalam seluruh hidup kita.

Sukab yang baik hati, esok adalah hari bahagiamu. Sepuluh tahun waktu yang lama, cukup membuatmu menjadi waras kembali. Kamu tidak akan memotong pagi atau apapun terutama senja pada empat sisinya. Moga kamu sadar, bahwa ada bintang-bintang berhamburan yang cukup adil untuk kamu memotongnya pada empat sisi. Hal itu tidak akan menimbulkan kekacauan, dan yang ada hanya kebahagiaan mu dan juga dia, dan aku. Besok adalah hari penikahanmu, aku telah maafkanmu, mengikhlaskanmu, dan senja yang kamu kirimkan, esok saat matahari mulai sampai di ufuk, akan ku kembalikan ke tempat semula, agar semua orang yang penuh harapan palsu itu, tersadar, dan menemukan harapan yang sebenarnya. Akan ku rekatkan kuat-kuat, akan ku jahit agar tak lagi terjadi pemotongan senja selanjutnya.

Aku telah memenuhi janjiku Sukab, aku datang, aku tak terlambat, aku bahagia.

Malam makin larut, Pantai Bara menjadi sangat dingin, tenda merayuku untuk rehat, besok pagi hari penting. Pertama senja itu akan kukembalikan, dan kedua cincin merah ke emasan. Cincin itu dengan cepat ku pungut sebelum menghilang di balik awan, besok akan kukenakan ke jemari istrimu tercinta, yang akan menjadi kekasihmu selamanya. Ingat Sukab, Dia tak perlu senja, dia hanya butuh kamu menjadi kerlib bintangnya, selalu.

Tentu surat ini tidak akan pernah sampai padamu Sukab, aku berjanji, karena tidak ada yang boleh menjadi malang di antara kita, selain menjadi bahagia, sekan-akan abadi walau telah lama tiada.

_Alina_

Senin, 28 Maret 2016

Tuan yang belajar menangkap bintang

Bapak tidak bisa bertahan, ia mengeluhkan gatal di sekujur tubuh. Akhirnya, "sarang kutu buku" itu, dipungutinya satu persatu dari deretan, 4 tahun ini, bertenger rapih. Sekarang mereka dalam dus dan telah melalui jalan 310 km. Biasanya mereka bisik-bisik membicarakan ide, cerita, kebijaksanaan, kisah mereka masing padaku, dari raknya, padaku yang adik slonjoran di kasur, menguping mereka. Sudah lama bisikan itu tidak terdengar, hingga bisik-bisik itu mulai mengusik lagi dari dalam kardus. Mereka saling berdebat, saling bantah, gagasan yang berbeda. Juga saling bercerita kisah diri mereka, bagaimana mereka bisa hadir dan kesan hidup mereka. Beberapa di antara mereka familiar kisahnya, dua di antaranya punya kesan mendalam. Keduanya bercerita tentang perjuangan cinta yang revolusioner. Seorang 'gila' berujar, "cinta itu nuklir yang energinya bisa menghancurkan, juga mampu memerdekakan negeri terjajah", tidak masuk akal kan!?
Tapi itulah kesanku, lahir dari energi cinta yang meluap darinya yang sedang kasmaran, jatuh cinta, yang hampir meledakkan dadanya. Tapi tunggu, ledakan itu tidak terjadi, konsep 'jatuh' itu, yang sakit itu digantinya dengan kata bijak sesepuh penghuni lain rak itu,  yaitu 'learn'. Waktu itu tuan mendengar bisik tentang aku yang selalu dicari si kakak berambut panjang itu, aku adalah kisah anak 'penangkap bintang', karangan Barry & Peacer yang masyur. Aku dicari ke sana ke mari, dan beruntung ditemukan di antara diskon yang tak terjamah, padahal kala itu, katakanlah sulit menemukanku. Setelahnya aku rajin mendongeng untuknya, di berbagai tempat, di musollah ekonomi, di kantin, di kelas, di koridor, di mana-mana sampai kisahku habis. Tuan bahkan tidak banyak fokus padaku, tidak terlalu tertarik dengan kisahku yang imajinatif. Tuanku hanya fokus pada pikiran gadis itu, sumber energi itu, apa yang dicarinya adalah jejak gadis itu dalam diriku. Akhirnya aku berpindah pada gadis itu, sebentar saja, dan suatu ketika ternyata aku kembali pada tuan. Akhir kisahnya bahagia, hasrat kuatnya, tidak tuan sampaikan pada gadis itu. Hasratnya beruba menjadi harapan besar agar gadis itu bahagia. Dan memang 4 tahun kemudian gadis itu menikahi kawan kecilnya. Menurut informasi yang dikirimkan semesta padaku, perempuan baik itu sekarang sudah punya momongan, anak manis tentunya seperti ibunya. Si Tuan menerima pesanku dengan baik, dia ikut bahagia, harapannya terwujud. Setelah melahapku habis waktu silam, tuan sepertinya belajar, tentang perasaan tahu diri dan batas-batas syarat yang tidak bisa dipenuhinya waktu itu. Aku mungkin kisah imajinasi anak2, tapi aku bahagia telah melindungi tuan dari sakitnya 'terjatuh', menjadi bahagia dengan 'pembelajaran'. Aku sengaja berbesik keras agar dia penasaran dan melankolinya mendesaknya padaku, hanya untuk mengatakan padanya, "tuan berhasil, dia bahagia dengan anak manis di gendongannya, dan terima kasih telah membuatku bermakna." Dan bertanya, "apakah tuan bahagia saat ini?"

_Tuan yang belajar menangkap bintang_

Kamis, 05 November 2015

Selamat Mencintai, Malam Ini..

Malam ini izinkan aku sekali lahi berbicara tentang cinta..
Sesuatu yang tak pernah cukup aku kenali..
Sesuatu yang melintasi berbagai masa..
Sesuatu yang hidup di balik tirai-tirai tipis kasat mata yang membutakan..

Malam ini izinkan aku sekali lagi bercerita tentang cinta..
Cinta yang bukan berwarna, merah muda, merah darah, biru, hijau, kuning, jingga..
Cinta yang tak kasat mata namun terang benderang cahanya dihati..
Cinta yang melihanya bukan dengan mata tapi dengan hati..
Cinta yang menyentuhnya bukan dengan tangan tapi dengan kasih..
Cinta yang bahan dasarnya bukan darah tapi cahaya..

Malam ini izikan aku mengagumi para kekasih pejuang cinta..
Mereka yang mencintai tak berharap balasan, karena cinta tak mungkin tak berbalas..
Mereka yang mencintai seutuhnya bukan tubuh, mata, kaki, atau kepala..
Mereka yang mencintai sempurna, karena cinta sempurna tak berbagi, tak berbatas..

Malam ini dan siang dan malam dan setiap hari izinkan aku berduka dalam cinta..
Dalam cinta yang deritanya adalah cinta dan obatnya adalah cinta..
Dalam derita yang penawarnya adalah derita dalam cinta..
Dalam kesepian, dan rindu, dan pertemuan, dan jarak, dan perpisahan..
Dalam setiap masa, di setiap tempat, di tanah yang merah, sungai dan langit yang juga merah..

Malam ini izinkan aku berterima kasih pada cinta..
Akan kebaikan hatinya membuka tabirnya, hingga nampak pada hatiku wajah klembut kasihnya,,
Akan kisah dukanya, dan derita, dan cintanya yang menurukan hujan di langit, di hati, dan jiwa..
Maka izinkan aku berkisah tentang ketidakmampuan, membicarakan, menceritakan, mengagumi, berduka, berterima kasih, berbahasa tentang cinta..
Maka izinkan aku menutup dengan segera semua kata-kata ini. Dan Izinkan aku masuk kedalam Hatimu, Kasihmu, Cintamu, Berduka bersama..
Maka izinkan aku berdoa semoga Cinta membimbingku untuk mengenalNya, menjadi layak bagiNya..

Ps: Malam ini cinta menjukan dirinya dalam berbagi bentuk yang aku rapuh hingga melalaikannya.. Dari satu kisah muncul dalam pengungkapan ketulusan hati.. Satu lagi berupa duka, penghinaan, kebodohan, keculasan, dalam memaksakan cinta atau aku sebut saja birahi orang tua nakal.. aku turut berduka untuk kisah kedua..

Minggu, 28 Juni 2015

Saat Berkunjung ke Kota Itu

"Pernah terbersit bahwa kita ini anak2 Adam.. Yang merantau meninggalkan ayah purbah kita dan menatap di berbagai tempat.. Kita berhijra dari rumah 'Ayah ibu' kita berpencar mengisi kerak bumi.. Kemudian kita beranak pinak, menjadi keluarga, menjadi suku, bangsa, negara.. Kita menetap, dan jauh dari 'ayah-ibu' kita secara geografis, dan juga masa.. Mereka telah lama tiada.. Tidak ada lagi tempat anak2 safir ini berkumpul, dalam lingdung kasih mereka.. Anak safir perlahan saling melupakan.. Identitas keluarga besar anak Adam mulai runtuh, diganti dengan kesukuan, ras, bahasa, wilaya.. Kita menjadi lupa garis2 besar pohon kekeluagaan anak2 manusia.. Hingga suatu ketika, Tuhan rindu agar manusia mengenal kembali keluarganya.. Maka diutuslah, Nabi-Nabi, mereka berperilaku lembut, sifatnya ramah pada semua, misinya persatuan, anti pada perpecahan, citanya kedamaian, cenderung pada Kaum yang lemah dan tertindas, dan lantang pada kezaliman penguasa.. Para Nabi mengajarkan saling mengasihi, atau mungkin mengingatkan kembali kasih yang tertidur, untuk mengasihi pada sesama.. Mereka yang terbangun, lalu sadar akan darah yang mengalir _tidak dalam pembulu darah_ namun mempertemukan mereka sebagai keluarga.. Mungkin demikianlah hakikat selaturahmi, menyambungkan kembali tali-temali kekeluagaan yang terlupakan.. Saling bertemu dengan sodara, melepas kerinduaan purba dalam kenyataannya _dalam segala perbedaan yang ada, dan dijadikan bahan bakar permusuhan, pertengkaran, perselisihan, yang tak patut_ kita adalah anak2 Adam, makhluk Tuhan sekalian alam (Hanya Tuhan yang boleh senidiri)..
Mungkin kita tak saling mengasihi, karena kita tidak saling ber-selaturahmi.." _anonymous_

Surat untuk Sahabat

"Itu pasti pukulan berat bagimu, tp mungkin kamu masih tersenyum seperti saat kita pertama kali berjumpa,  saat orang berlalu lalang dan kamu mendahului menyapaku yang asing. Saya percaya kamu sekarang baik-baik saja juga kudoakan demikian. Pagi ini kudapati berita laws tentang dukamu di akhir tahun lalu. Aku turut berduka, mendoakanmu semoga tabah. Kita sudah bertahun-tahun tak berjumpa, bertegur sapa juga, namun kesan di pagi itu membuatmu selalu menjadi sahabat kapanpun dan di manapun kamu berada. Sayangnya dan beruntung bagimu, kamu tidak berada dalam media sosial satupun. Kuharap suatu saat kita bisa berjumpa dan senyum sapa ramah khasmu tetap ada. Moga Tuhan menabahkanmu beserta keluarga, moga Tuhan menerima kebaikannya. Sampai bertemu lagi sahabat lama. Moga segera bertemu."

_Surat untuk sahabat lama_

Pesan Lawas

"Aku titipkan doa dan Salam di pintu kasihmu.. Jika kamu berkenan aku akan sangat berbahagia.. Jika tidak.. Moga menjadi azimat bagimu.. Tertulis padanya.. Semoga kamu selalu dalam kesehatan, kebaikan, keberkahan, keselamatan, dalam kasih-sayang_Nya..."

Senin, 08 Juni 2015

Terima kasih permenya

Judulnya, "Terima kasih atas permenya.."
Menyayangi adalah hal biasa. Luar biasa malahan jika, mengapa tidak saling menyangi dan bahkan membenci! Tugas kita adalah saling berbagi permen. Apalah arti sebuah permen, pada akhirnya akan sirna juga.. Menjadi bermakna karena ada cinta padanya.. Rasa manisnya adalah cinta, kasih, sayang.. Seperti kata Arifin, "Berikan permen bagi mereka yang tidak merasakan cinta.".. Siapakah mereka? Yaitu aku, kamu, dia, mereka, dalam "kita".. Maka pemberian itu adalah permen manis.. Katanya, "terima kasih atas permenya..".. Segalanya manis terasa..

Minggu, 07 Juni 2015

Ekoliterasi bagi siapa?

"Pemikiran holistik seperti interdisplinernya pengetahuan, pendidikan multikultural, pandangan dunia yang lebih paripurna,  hingga sampai pada quote seperti "kita adalah semesta" ala 'Ekologi dalam', atau Eksistensialisme Heiddeger, atau lebih dalam lagi oleh para kaum Arifin adalah bentuk usaha pemikiran manusia untuk beranjak dari antroposentrisme banal dan pengkotak-kotakan kemanusiaan (dikotomisasi merupakan akar fasisme, rasisme, takfirisme) menuju makna dalam menjadi manusia.. Tantangannya adalah bisakah manusia keluar dari rasionalitas yang cenderung administratif dan condong pada rasionalitas humanis dan arif sehingga kemanusiaan menjadi terwujud.. Artinya membangun bangun kemanusiaan (termasuk gerakan ekologi dalam) dalam  kerangkeng 'saya'/'aku' tidaklah layak untuk dikatakan telah mencapai pandang yang lebih holistik dan memanusiakan, bahkan bisa dikatakan masih terjebak pada egoisme (yang cenderung dehumanis).. Bukankah "Dan Tuhan menciptakan manusia dengan warna kulit berbeda, bahasa berbeda, suku berbeda, bangsa berbeda, untuk saling mengenal.." Lalu apa gunanya saling mengenal? Apakah untuk saling membenci? Merendahkan yang lain? Atau mengunggulkan diri.. Pengetahuan manusia yang mendalam serta fitra manusia memberikan jawaban bahwa manusia berasal dari akar rumpun yang sama.. Manusia adalah keluarga besar makhluk ciptaan-Nya, bukan hanya sesama manusia bahkan seluruh semesta, tidak ada yang hidup di luar akar rumpun yang sama ini.. Maka manusia yang mengenal dirinya akan mengenal hakikat kesatuan tersebut.. Pada saat itu layaklah manusia berkata "karena kita adalah semesta..".."

Kita adalah semesta adalah pengetahuan yang sakral, sayang saja jika kita memprofankannya.. Kesakralan itu bukan berarti menjadi ekslusif dan dikotomis, indahnya jika kesakralan itu menjadikan manusia menjadi lebih manusia, berdampak pada perilaku yang makin etis dan semoga tercega dari egois, fasisme.. Karena kita adalah semesta maka kita melihat semua menjadi "sama" walaupun pada realitas "berbeda".. "Sama Itulah etika konsekuensi pengetahuan holistik.."..

Catatan:
1. revisi perjalanan menjadi semesta..
2. Tidak mesti menjadi yahudi atau nazi untuk menjadi fasis. Fasisme bahkan hadir dalam tubuh siapa saja..

Sabtu, 31 Januari 2015

Cermin mimpi

"Ia berlari dengan cepat dan seketika jalan seakan-akan menerjal, menanjak, menghampirinya. Langkah perlahan mulai melambat dan semakin lambat nan berat, ia bahkan tak kelelahan, namun sungguh berat kakinya melangkah. Setiap kayuhan yang ia usahakan, tak sesentipun mengerakkannya dari tempat berpijak. Lalu seutas tali memanjang dari puncak tertinggi, ia meraihnya, digenggamnya sekuat tenaga. Ditariknya tubuh serta kakinya yang semakin berat, seakan telah mengakar dibumi. Ia melangkah kepayangan pelan sekali dengan tali itu, kearah puncak, selangkah demi selangkah memindahkannya, hingga ia terbangun."
_Bermain-main dengan mimpi_

Temui aku pada batu nisan kehidupan

Hai kekasih! Apakah saat ini kamu sedang tersenyum atau tertawa atau menangis membaca novel kesukaanmu, hidupmu.

Masihkah kami setia dengan karet di tangan! Sedia mengoreksi tiap kata atau kalimat atau paragraf pada lembaranya yang tidak kamu suka.

Mungkin kasih sudah lelah! Atau telah sadar? Bahwa setiap tulisan dalam novel itu tidak tertulis dengan pelsin Atau pena. Namun tertulis di atas lembar-lembar batu nisan, timbul-tengelam semaunya.

Hei kekasih! Hentikan tindakan sia-sia itu. Bukankah cerita pengingat di atas batu nisan tidak pernah bernilai sama tiap harinya.

Kadang hanya berupa duka saja.
Kadang tertimbun tak berarti apa-apa.
Kadang makna dan hikma menyeruak bermekaran.
Hikma tak selalu berarti bahagia, kadang berupa tangisan mendalam dan ratapan.
Kamu yang paling tahu itu!
Hidup untuk dijalani juga disyukuri!!

_Temui aku pada batu nisan kehidupan_
_10 Desember 2014_

Kamis, 12 Juni 2014

TERIMA KASIH PAGI

"Terima kasih pada pagi,
yang kemudian datang membawah kabar berita sang surya..

Bahwa hari masih akan berlanjut,
beserta harapan-harapannya yang belum pupus..


Bukankah hidup ini adalah harapan itu sendiri?!


Setelah tirai sang malam tersingkapkan,
lalu awas menjadi tercerahkan..

Yang setenga mati lalu hidup lagi..
Yang lupa lalu mengingat kembali.. 


Menyingsingnya sang malam adalah tanda keteraturan..


Semua hal terus berubah,
materi bergerak,

dan jiwa menyempurna..


Selamat pagi bagi kabar-kabar baik..

Selamat datang hati yang belajar menerima.. 
Selamat bersyukur jiwa bersabar.. 
Selamat beristirahat mata yang lelah berjaga.."


Saat mata takunjung letih, lalu cahaya mulai menyiksa mata yang tak terbiasa..
Rumah Hijau..
Sepakat..

EKSTRIMSME


"..Iblis terpesona pada bentuk, dan lalai pada makna.. Api telah membuatnya merendahkan Tanah.. Pun ia lupa bahwa di balik lempung tanah yang rendah, ada wilaya yang tidak ia pahami.. Yaitu limpahan cahaya keberadaan dari Yang Maha Awal dan Akhir..

Berhala terbesar iblis adalah kesombongannya.. Keterpesonaannya pada bentuk, lalu menafikan potensi Adam, menyebabkannya terjebak pada kultus diri..

Demikianlah manusia mengulang perilaku iblis, dalam keterbatasan pengetahuannya menutup peluang kebenaran pula kebaikan ada pada yang lain, dan mengurung kebenaran hanya pada pahaman terbatasnya..

Seperti kata iblis "Aku adalah Api sedang Adam hanya tanah yang kotor..".."

Moga kita terlindungi dari sifat iblis yang ekstrim.. Moga cahaya kebenaran menunjuki kita jalan kebaikan serta kedamaian.. 

Kamis, 05 Juni 2014

FROM SEPAKAT WITH LOVE GOES TO CANGKE PART N.. (MAAFKAN, KALI INI SAYA TIDAK IKUT. hiks.. hiks..)

Oleh Hajir Muis..

Matahari terbenam menebar tirai mega jingganya ketika kapal katinting kami mulai merapat pada pulau tujuan. Masa itu dermaga masih dalam tahap perencanaan, kata kawan dermaga saat ini sudah rampung, itu kira-kira dua tahun setelah kisah ini aku tuturkan. Tidak perlu lagi berjalan berpuluh meter dari bibir pantai, sambil awas dengan bulu babi yang berserakan dengan kemungkinan besar kaki menginjaknya. Kata orang, tertusuk bulu babi itu menyakitkan. Kemudian benar saja, saat itu aku yang lebih dahulu mencicipinya. Namun entah mengapa? magis sang surya yang mulai terhijab tirai malam, serta hamparan pasir bersih, pepohonan pinus, aroma air laut, pohon cinta, api unggun, angin mamiri, gemintang di langit, gemuru ombak, nada gitar, nasi asin, bubur kacang ijo, bertemu daeng Abu dan isteri, semuanya menjadi sebab rasa sakit di kaki yang harusnya perih, baru terasa ketika kami kembali..

Ahhh. Kisah itu sudah lama berlalu, sama lamanya dengan tumbuhnya rambut sepanjang setengah meterku. Kira-kira tiga tahun silam, kami bersama, bagiku untuk pertama kali, bersenang-senang di pulau seukuran lima belas menit berjalan mengitarinya. Pulau yang letaknya lebih dekat dari kabupaten pangkep, kemudian kami capai setelah tiga jam mengarungi laut dari pelabuhan poatere makassar. Seingatku fobia laut dan ketinggian, sekali waktu hampir membuat aku kecil tercebur di pantai pare-pare. Kali ini aku malah berada di tengah samudera dengan palung-laung laut yang pasti sangat dalam, dapat saya ketahui dari perubahan warna permukaan laut, hitam pekat, kemudan hijau lumut, hingga biru gelap. Saat itu aku yakin lantai bumi berada dua-puluh meter di bawah kapal kami. Takut menyeruak, menegeskan hal medasar, kematian menghantui. Ditambah lagi pada saya yang memang tidak pernah belajar/tahu cara berenang, Lengkaplah sudah syarat untuk semakin cemas. Sekali lagi entah, seingatku, aku hanya bisa tersenyum puas, sambil mengumamkan doa dan rasa syukur, dalam kekaguman tak terbatas akan keluasan samudera ciptaan Yang Maha Luas. Sungguh takut itu hanya sebantar saja adanya. Angin laut yang menerpaku, air laut dari ombak yang dibelah perahu, membasahi wajahku. Rasa kecil di hadapan keluasan semesta Ilahi, saat ini, jauh setelah hari itu aku bersumpah, “Nikmat Tuhan mana yang dapat di dustakan?!”

Kisah kali ini adalah memori yang coba aku petik lagi hikmahnya, sebagian orang memisahkan masa lalu, sekarang dan masa depan, dari manusia itu sendiri. Bagiku kini bagi 'masa lalu' 'sekarang' dan 'masa depan', adalah manusia itu sendiri. Manusia tidak pernah berada di luar masanya. Sebagai makhluk manusia selalu ada bersama masanya (waktu), atau katakan saja waktu adalah hidup itu sendiri. Dengan jika demikian adanya, maka manusia tidak akan terjebak dalam determinisme sejarah, bahwa segala hal yang dilakukan manusia dalam hidupnya adalah pure paksaan dari mother nature.Jika hidup adalah sebuah keteterpaksaan, maka makna akan hilang, kebaikan akan absurd, kesempurnaan akan menjadi utopia.

Kami senang melakukan perjalan-perjalan, dasarnya selalu adalah untuk melihat hidup kami masing-masing lebih dekat!? Bukankah kita kadang bercermin pada diri manusia yang lain. Bukakankah kita sadar bahwa kita ada, karena menyadari keberadaan yang lain. Oh, perjalanan menyenangkan kami kadang membuat kami menjadi lupa diri, berhura-hura, hedon, pongga, hingga kadang zalim pada sesama, dan lebih sering pada diri sendiri. Lalu selalu saja ada di antara  kami yang menjadi alarm bagi yang lainnya, Kadang dia orang yang memang sadar dengan perannya, kadang datang dari siapa saja yang tak terduga, dalam bentuk celaan keras, singgungan, sanjungan bermotif, mengingatkan setiap diri yang terbawah arus kelupan, dalam hingar-bingar pesta ala kadarnya di bibir pantai. Yaa, saat itu pengingat itu datang dari keegoisan untuk mementingkan diri sendiri, umpatan yang tak sadar sebenarnya membumerang pada diri, dan tulisan bijaksana yang mengkritik sambil autokritik. Aku sungguh merindukan hal demikian!

Matahari terbit mengarah tepat ke wajah kami yang baru saja memulai membisakan diri, setelah rehat bernyanyi semalaman. Dengan cepat adik-adikku berlari menuju pantai yang megarah ke timur, arah kami bersandar dari makasaar. Tanpa pikir panjang menceburkan dirinya pada air laut yang masih pasang, namun tetap dalam kehangatannya. Saya yang tidak tahu cara berenang hanya bisa bermain-main air di bibir pantai, layaknya katak yang takut jauh-jauh dari darat. Hingga seorang teman mengajarkan bahwa kadar garam lalu akan memudahakan manusia untuk mengapung di permukaan, itu berarti akan memudakan pula untuk belajar berang. Benar saja, beberapa menit berlatih akhirnya saya bisa berbolak-balik puluhan meter jauhnya, sungguh menyenangkan.

Waktu bergulir dengan cepat, seperti perasaan ketika duduk di samping nona yang manis. Belum juga panci bekas memasak pagi tadi dibersihkan, waktu masak dan makan siang pula tiba. Kami memasak sepanci nasi, dan lauk dari telur, nugget, sarden, dan mi instan, yang kemudian sangat mengenyangkan kami. Dan akhirnya seperti ular yang kekenyangan, kami beristirahat sejenak di bawah pepohonan pinus rindang dengan cahaya bejatuhan dari sela-selanya. Desir suara ombak pantai pun surut makin menjauhkan bibir pantai berpuluh meter. Desirnya masih saja mendayu-dayu merayu kami untuk segera kembali bercumbuh dengannya. Alhasil beberapa dari kami melanjutan bermain air hingga lupa waktu. Saat itu saya memilih untuk bermain dengan bintang laut, dan mengisih botol bekas dengan berberapa jenis pasir untuk jadikan kenagan di rumah.

Senja mulai bersiap menganti tirai kegungan dengan tirai penjagaan. Kami lalu bergegas berpindah ke sisi sebelah dari pulau. Ahh, sayangnya awan sedang bercengkrama akrab dengan senja, hingga hanya cahaya oranye gelap yang berpendar dari dari sela-sela awan, pun perlahan menyingsing bersamaan dengan selesainya kata terakhir awan kepada sang senja. Kami tepat mengahadap kearah barat, bagi ummat muslim di berbagai negara, barat adalah identik dengan arah bangunan suci kuno yang pertama kali didirikan kembali oleh Ibrahim AS, setelah jauh sebelumnya dibangun oleh ayah manusia Adam AS. Arah pemersatu keragaman ras, suku, bangsa. Arah yang memungkin dan menjadi bukiti bahwa di tengah berbagai macam perbedaan, persatun dan kedamaian sangat dimungkinkan untuk terwujud.

Aku mengingat kembali, saat itu adalah awal pertama kalinya mulai membaca beberapa buku, salah satunya buku kang Jalal, Road To Muhammad, moga keberkan baginya yang bertekat menebar cinta kepada sang nabi suci beserta keluarganya. Pada sebuah pembahasan seorang ingin menghadikan sesuatu pada sang nabi, namun dia tidak punya apa-apa, ia sudah tua, ia berkerja menyapu dedaunan kering yang berjatuhan. Saran kang Jalal yang selalu saya ingat kepada orang tua itu, kenapa tidak setiap desiran sapu yang menyapu dedaunan disertakan salam salawat kepada kanjeng nabi, moga sekiranya nabi menjadi saksi atas kecintaan anda.. Ahhh. Ingin juga kiranya melakukan hal demikian, mungkin dengan cara yang berbeda, ingin di setiap perjalanan, di setiap tempat baru, di setiap kekaguaman pada ciptaan sang Khalik, ingin menghadiakan sebuah salam dan salawat bagi sang nabi. Walaupun nilainya hanya bagai debu dihadapannya. Bagaimana bisa bernilai, sedang Tuhan dan malaikat tak henti mencurahkan salawat bagi sang kemulian Ilahi ini. Demikianlah kesenangan lebih, mengapa kami begitu senang melakukan perjalanan.

Malam itu aku hanya berselimut selembar pasmina tipis pinjaman dari teman, anehnya dingin dari angin yang agak kencang, sama sekali tidak menembus ke dalam hangatnya tebal kebahgiaanku. Pagi menjelang, kapal katinting kami lebih awal bersandar ke bibir pantai, memanfaatkan pasang laut yang sedang tinggi-tingginya. Kami lalu bergegas mengemas barang-barang untuk segera kembali kerumah, tak lupa berpamitan kepada daeng abu dan istrinya, dan tentuhnya berfoto bersama dengan gaya terbaik. hahaha..



Hari ini, berhari hari lalu dari masa itu, kawan-kawan kembali melakukan perjalanan menyenangkan ke pulau yang tentu hati merindu padanya. Namun kali ini maafkan aku tidak ikut dalam rombongan yang penuh senyum sumringa. Tidak ada dalam frame rombongan keren, dengan kemeja khas pantai, kacamata mentereng, dan warna kulit yang terbakar (kalo aku mungkin jadi hangus). Kali ini aku ikhlas tanpa prasangka sekalipun, bahwa kawan-kawan tidak meninggalkanku. hahaha.. Moga doa keselamatan buat kawan-kawan semuanya, katanya kali ini robongan sangat ramai sekitar 38 orang. Moga kalian sehat dan selamat kembali kerumah tanpa kekurangan apa-apapun. Moga kalian pulang mengabari saya kisah-kisah seruh dan foto-foto narsis atau selfi yang tidak membuat cemburu! hahaha.. Namun kiranya kalian mendapat hikma, mungkin itu hal yang terbaik yang bisa kalian dapatkan. Semoga Tuhan membantu kita menyingkapkan hijab_Nya dan kemudian kita mendapat buah paling manis dari sebuah perjalanan, apapun itu.


Rumah Hijau_Sepakat

Setelah mengantar rombongan terakhir menuju Cangke..

Sabtu, 31 Mei 2014

MENJADI

Jangan khawatirkan daku kasih..

Aku hanya sedang mencintaimu.. 

Jika kamu bahagia, itu adalah hakmu..

Jangan kira aku akan mengangap kamu khianat..

Kasih, esok mungkin kita tak bersama.. 

Entah mengapa aku yakin kasih tak perlu padam..      

Demi mencintaimu akan aku bunuh hasrat dan hawa nafsu..

Kau akan selalu jadi kekasih..


ps: bagi beberapa orang yang mengalami 'cinta', ada kerumitan nan komleks terasa.. ada yang mengangapya beban, ada derita, ada musibah.. bagi sebagian lain yang belajar, cinta bukanlah sebuah motif dari semua itu.. cinta adalah motif yang mengerakan seorang pecinta menuju kesempurnaan Cinta..

Rabu, 28 Mei 2014

Bunda Fatimah AZ..

Oleh : Ummi - Haddad Alwi dan Sulis

Ummi yaa lahnan a'syaqohu
(Ibu, lagu yang paling kugemari)
wanasyidan dauman ansyuduhu
(irama yang selalu kudendangkan)
Fikulli makanin adzkuruhu
(di mana sahaja, aku mengingatinya)
wa-azhollu azhollu uroddiduhu
(selalu dan selalu aku nyanyikan...)
Ummi yaa ruuhi wa-hayati
(Ibu, wahai jiwaku dan hidupku)
yaa bahjata nafsi wamunaati
(pemberi kebahagiaan dan harapan)
Unsi filhadhiri wal-ati... 2x
(sekarang, juga di masa hadapan...)
Allohu ta'aala aushoni
(Allah memerintahkan aku)
fissirri walau fil i'laani
(dalam ku sendiri atau terbuka)
Bilbirri laki wal-ihsaani... 2x
(supaya bersikap membahagiakan terhadapmu,
dan mengasihimu...)
Ismuki manquusyun fi qolbi
(Namamu wahai ibu terpahat di hatiku)
Hubbuki yahdini fi darbi
(cintaku padamu membawaku ke jalan yang
benar)
wadu'a-i yahfazhuki robbiy... 2x
(dan doaku selalu, semoga Allah sentiasa
menjagamu...)


ps: Jika cinta ada sebuah rahasia, rahasia itu separuhnya tersembunyi di balik dirinya "Ibu dari Bapaknya.." kiranya ia yang disucikan Tuhannya menjadi saksi bagi ummat yang mencintai Ayahnya sang Nabi mulia, besertanya sang penghulu perempuan di surga, serta keluarganya yang suci-sesuci-sucinya... 

Minggu, 18 Mei 2014

Menggugat Cinta..

Padamu yang menggugat cinta,
kau datang lagi padaku dengan wajah berhias suram-durja. 
Apa dunia sekali lagi menyakiti dirimu?
atau cinta menyayat hatimu? 
Apakah begitu adanya arti sebuah cinta?
 Sakit.. sakit.. dan sakit.. 
oh.. sungguh tidak demikian kasihku... 
Percayalah bahan dasar kita adalah cinta..
 hidup kita adalah cinta..
 dan takdir kita adalah cinta..
 hanya saja mata kita terlalu sibuk dalam ketakutan dan kebodohan untuk menyingkapnnya..
 Mohonlah bantuan dari cinta untuk mengenalinya..
 hanya cinta yang mengenal cinta..
 maka kenalilah cinta dengan cinta...

Sabtu, 05 April 2014

KASIH (TANPA PERLU SYARAT)..

Ini seperti ketika yang telah aku ketahui..
Saat hatiku terpesona, seperti saat yang silam..
Kadang aku membendungnya, namun tidak kali ini..
Kasih yang lembut, sungguh aku menikmati ..

Manisku..


Biarkan aku mencintai dalam diam, tanpa kata, mimik, gestur, dan bahasa..
Biarkan aku merindukanmu tanpa pertemuan, tanpa pengharapan, tanpa kau tahu aku demikian..
Biarkan dirimu bebas mencintai, agar aku tak perlu  mengurungmu dalam penjara harapku dan lalu kau merdeka menjalani hidupmu..
Biarkan mengalir seperti aliran sungai-sungai pedesaan yang tak tercemari..

Kasihku..

Kita bermesraan, tanpa bersama, tanpa pelukan..
Kita saling mencintai dalam Cinta..
Kita kekasih tanpa perlu syarat..

Minggu, 30 Maret 2014

Senyum sang Bulan..

"Bulan tersenyum sumringga..
Warna jingganya memancarkan keanggunan..
Itu indah..
Yang memandang lalu menjadi bahagia..
Namun ada yang beribu kali lebih indah dari itu, yaitu senyuman bahagia anak manusia..
Seorang yang berilmu pernah berkata, 'kebaikan adalah memasukkan rasa bahagia pada hati orang lain'..
Kalo memang kebahagiaan adalah indah, itu adalah yang semua manusia cari..
Lalu mengapa manusia saling menuduh, mempersalahkan, memfitna, merampok, membunuh, despotis, korup, menyiksa, mengafirkan orang lain..
Sedangkan semua itu sedikitpun tidak akan mendatangkan kebaikan dan mana mungkin kebahagiaan..
Manusia masih akan terkagum pada rembulan yang meronah jingga atau merah, namun anehnya asing pada senyuman manis dari hati yang bahagia.."

Sabtu, 29 Maret 2014

Antara-Antara..

Aku di antara keramaian dan sepi..
Aku di antara histeria dan perenungan..
Aku berada dalam teror dan kedaimaian..
Aku berada dalam nyanyian dan kerinduaan..

Gemintang berbinar tak terhalang kelabu..
Lampu-lampu jalan temaram menemani mata tak tahan gelap..
Parang tak bersarung diangkat sang jalang, membunuhi, meneror sesiapa saja..
Jalan raya diterobos melawan arah, atas tak tahu apa alasannya? Djago mungkin!

Aku bernyanyi 'di mana aku di sini?'..
Aku mendengar 'lost' Morrissey..
Ada juga dangdud koporol!
Ada juga samar bisik rintihan pendoa..

Aku mungkin berada di 'antara' 'antara' tapi aku tidak hilang di sini.. Aku hanya sedang dalam damainya rindu.. Jasad dan tubuhku ada di sini bersama gaduh, histeria, dan nada- nada harmoni.. Namun semesta berbaik hati, disampaikannya doa-doaku bagi mereka yang terkasih, tersenyum, terindu.. Tak ada yang hilang disini, selain jiwa mereka yang tertinggal di rumah mereka.. Yang ada hanya jasad berkeliaran menyalahi hukum rantai makanan.. Tarian-tarian, teriakan-teriakan yang menghilangkan mereka sepenuhnya, sebut saja alienasi....

Hanya mengasihimu, merindukanmu, mendoakanmu, satu-satunya pilihan yang ada dalam "riuh dan rendah" ini.. Membunuh, cemburu, membenci, dendam bukanlah pilihan lain.. Semesta yang indah ini mengajarkan kita demikian..
 
Jangan sangka rindu ini menyiksa.. Tidak! Itu tanda fitrahNya.. Itu tanda kita, tanda kita manusia..
Jangan sangka rindu ini jalan yang sepih.. Tidak! Aku malah ramai dalam kesibukan mendoakan.. Rindu dan kasih ada agar kita manusia saling mendoakan pada kebaikan-kebaikan, lalu kasih-mengasihi, sayang-menyayangi..

Ps: saat suara-suara tak urung berganti tenang..

Maret yang bijaksana..

"Maret selalu punya kenangan.. Sudah tiga maret kita masih setia singgah di tempat ini.. Kuingat pada maret terakhir, kaki-kaki kita saat itu sedang rapuh.. Kau sesekali bahkan merintih kesakitan.. Namun kau tetap pesakitan yang mudah tersenyum..

Hatimu terlalu jujur, tak bisa menyembunyikan bahwa kau memang cinta laut biru.. Kita lalu menikmati semilir angin sepoi-sepoi dan suara deruh ombak yang berlari-larian, saling kejar-kejaran.. Sambil menunggu persembahan terakhir pemilik magis, tirai Jingga di ufuk panorama.. hmmm.. Selalu saja bisa memanjakan mata kita..

Tetiba saja serentak kita berucap syukur, dan merapalkan kalimat kesukaan, "Maka nikmat Tuhan mana yang bisa kita dustakan??" kita lalu saling melempar senyum bahagia.. Saat ini maret ketiga, belum juga kaki-kaki kita kokoh.. pun kita tidak menyerah dan kalah.."

Ps: Bagaimanapun tidak baiknya kondisi kita.. Apapun yang kita hadapi.. Tetaplah tersenyum, tentu setelah hati kita bersihkan.. Moga mata hati kita terbuka, lalu kita melihat tidak dengan prasangka.. Damai dan berbahagialah.. 
(^_^)V